Mengintip Keseruan DICE 2026: Menatap Peluang Industri Digital Tanpa Terjebak FOMO – Medkraf

Mengintip Keseruan DICE 2026: Menatap Peluang Industri Digital Tanpa Terjebak FOMO

Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, Kelompok Studi Mahasiswa Media Kreatif (Medkraf) UPN “Veteran” Yogyakarta kembali menggelar acara tahunan Digital Creative Space (DICE). Tahun ini, DICE hadir dengan tema “Turning Creativity into Opportunity in the Digital Era: Navigating Pressure, FOMO, and Burnout“, sebuah tema yang terasa dekat dengan keseharian banyak anak muda yang aktif di dunia digital saat ini. Di balik peluang besar yang ditawarkan pada era digital, ada tekanan nyata yang sering kali tidak terlihat, seperti rasa takut ketinggalan tren, kelelahan mental, dan kehilangan identitas kreatif.

Bertempat di Ruang Seminar FISIP Gedung Agus Salim UPN “Veteran” Yogyakarta, acara ini berlangsung dari pukul 10.00 WIB ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta. DICE 2026 ini tidak hanya terbuka untuk mahasiswa FISIP UPNVY saja, tetapi juga menjangkau mahasiswa dari fakultas lain, bahkan masyarakat umum di luar UPNVYK juga bisa mengikuti acara ini. Peserta hadir dengan pakaian bernuansa pastel, dari lilac, lavender, beige, hingga emerald, sesuai dresscode yang sudah ditetapkan oleh panitia.

DICE tahun ini sendiri hadir dengan tujuan memberi ruang bagi mahasiswa dan anak muda untuk memahami industri kreatif digital secara lebih jujur dan mendalam. Di balik peluang besar yang ditawarkan era digital, ada realita yang jarang dibicarakan secara terbuka, yaitu tekanan untuk selalu mengikuti tren, rasa takut ketinggalan, dan kelelahan mental yang perlahan menggerus semangat berkreasi. Disertai pula dengan sudut pandang yang lebih “dewasa” dalam berdinamika di dunia digital ini

Narasumber Tunggal Tahun Ini

DICE 2026 menghadirkan kak Forysca Ajeng Purnomo sebagai narasumber tunggal. Ia adalah seorang content creator, musisi independen, dan produser digital yang membangun kariernya dari jalur yang tidak biasa. Kak Forysca membangun karir kreatifnya sebagai musisi independen sekaligus kreator konten digital. Salah satu pekerjaan utamanya melibatkan proses kreatif yang cukup rumit, yaitu menerjemahkan lirik lagu Pop Jawa seperti koplo dan campursari ke dalam bahasa Jepang tanpa merusak struktur nada, lalu mengaransemen ulang musiknya agar memiliki nuansa J-Pop atau Anime OST. 

Tidak hanya tampil sebagai performer, kak Forysca juga berperan sebagai konseptor di balik layar. Latar belakang pendidikannya di bidang Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Komunikasi Massa dan Digital dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta memberinya pemahaman kuat tentang algoritma media sosial, tren audiens, dan strategi branding. Konsistensi dalam berkarya dan pemahaman mendalam tentang cara kerja industri kreatif digital menjadikan kak Forysca bukan sekadar “creator”, tetapi juga seorang praktisi yang memahami ekosistem digital dari dua sisi sekaligus, yaitu sisi kreasi dan sisi strategi.

Navigasi Tekanan Digital : Dari FOMO hingga Burnout

Acara kemudian diambil alih oleh moderator yang menandakan bahwa sesi talkshow bersama narasumber sudah dimulai. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan moderator menyentuh hal-hal yang jarang dibahas secara terbuka, seperti cara membangun identitas pribadi kita tanpa terpengaruh dengan tren yang ada dan cara menjaga algoritma sosial media kita dengan baik.

Kak Forysca mengatakan bahwa kreativitas yang berkelanjutan lahir dari kejujuran terhadap diri sendiri, bukan dari tekanan untuk selalu relevan di mata algoritma. Menurutnya, sebuah konten yang “bagus” adalah sebuah konten yang memiliki identitasnya sendiri tanpa perlu takut untuk ketinggalan tren yang ada.

Rasa takut ketinggalan tren bukan muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari lingkungan yang terus mengukur keberhasilan seseorang dari seberapa cepat ia bereaksi terhadap tren yang sedang berjalan. Padahal, ikut tren karena strategi dan ikut tren karena tekanan sosial adalah dua hal yang sangat berbeda.

Kak Forysca juga menyampaikan bahwa angka tinggi tidak selalu berarti konten itu berhasil. Keberhasilan sebuah konten, menurutnya, lebih tepat diukur dari sejauh mana konten tersebut relevan dengan audiens yang dituju dan konsisten dengan identitas sang kreator. Organisasi atau individu yang terus mengejar tren demi engagement berisiko kehilangan ciri khas yang justru menjadi nilai paling berharga mereka di jangka panjang.

Pesan dan Harapan

Dari setidaknya 100 orang yang hadir, satu hal yang menjadi simpulan bersama adalah berkarya di era digital tidak harus selalu mengikuti arus. Tekanan untuk terus relevan, takut dianggap ketinggalan, dan kelelahan akibat mengejar algoritma adalah tantangan nyata yang dihadapi banyak anak muda kreatif saat ini. DICE 2026 hadir sebagai pengingat bahwa kreativitas yang sehat tumbuh dari kejujuran terhadap diri sendiri, bukan dari ketakutan untuk dianggap ketinggalan.

Kak Forysca, melalui perjalanan dan pengalamannya telah membuktikan bahwa berkarya dengan identitas yang kuat justru menjadi nilai lebih di tengah lautan konten yang seragam. Peserta diajak untuk mulai membangun cara pandang yang berbeda terhadap media sosial, bukan sekadar ruang untuk tampil, tetapi juga ruang untuk bertumbuh secara autentik.

KSM Media Kreatif UPNVY melalui DICE 2026 kembali membuktikan bahwa ruang diskusi yang hangat, terbuka, dan relevan bisa tercipta di luar ruang kuliah. DICE diharapkan terus menjadi ruang kreatif yang mendorong generasi muda untuk lebih sadar terhadap perkembangan industri digital, bukan hanya membekali pengetahuan secara materi, tetapi juga membuka peluang untuk tumbuh tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *